Archives April 2020

manfaat-bioballs-pada-pemeliharaan-ikan-sidat

Manfaat Bioballs pada Pemeliharaan Sidat Sistem Resirkulasi

Bioballs adalah sebutan untuk media filter biologi yang terbuat dari plastik berbentuk bulat mirip rambutan. Bioballs dibuat khusus berongga banyak sehingga memiliki luas permukaan yang besar. Luas permukaan bioballs dapat mencapai 600 m2 per meter kubik bioballs.

Bioballs berfungsi sebagai media hidup bakteri pengurai yaitu bakteri Nitrosomonas dan Nitrobacteri. Bakteri ini sengaja dilepas ke dalam air dan diharapkan hidup di dalam permukaan bioballs tersebut.

Bakteri menguntungkan tersebut berfungsi sebagai pengurai dalam proses nitrifikasi. Nitrifikasi adalah proses oksidasi dari Amonium (NH4) dan gas Amonia (NH3) yang berbahaya bagi ikan, menjadi Nitrit (NO2) dan kemudian berubah menjadi Nitrat (NO3) selanjutnya akan lepas menjadi nitrogen bebas (N2). Bakteri nitrifikasi mampu menguraikan amonia sebanyak 0,2-2 g per meter luas area per hari.

Bioballs biasanya ditempatkan khusus pada Biofilter. Filter ini berfungsi untuk menghilangkan amonia yang terkandung di dalam air yang mengalir ke dalam filter tersebut dengan proses biologi dengan bantuan bakteri yang hidup di dalam bioballs.

Kebutuhan jumlah bioballs bisa dihitung dan disesuaikan berdasarkan banyaknya amonia yang dihasilkan dari sejumlah pakan yang diberikan kepada ikan pada sistem pemeliharaan tersebut.

Sidat Labas | Better Eel for Better Life

Labas Academy The Series
FB Sidat Labas
Instagram @labassidat
Youtube LabasTV

dampak-alkalinitas-air-pada-ikan-sidat

Dampak Alkalinitas Air pada Ikan Sidat

Pertemuan kali ini Kita akan bahas alkalinitas dan dampaknya terhadap budidaya ikan sidat. Seperti yang ditulis oleh Boyd (1982),
alkalinitas adalah total konsentrasi basa yang ada di dalam air yang digambarkan dalam miligram per liter Kalsium karbonat (CaCO3). Pengertian yang lebih sederhana yaitu kapasitas air untuk menetralkan tambahan asam tanpa penurunan pH larutan (Ritonga, 2014).

Ikan bernafas menghirup O2 (oksigen) dan melepaskan CO2 (karbondioksida). Jika jumlah ikan semakin banyak atau ikan semakin lama berada di dalam wadah budidaya, maka semakin banyak CO2 yang dihasilkan dan berpotensi menurunkan pH air. Zat CO2 yang bereaksi dengan air menyebabkan terlepasnya ion H+. Akibatnya, konsentrasi ion H+ di dalam air bertambah dan pH menurun.

Apabila alkalinitas air berada pada level >40 mg CaCO3 atau berada pada kisaran terbaik di rentang 100-200 mg CaCO3 (Lekang, 2007), maka pH tidak akan turun karena ada alkalin (ion bikarbonat HCO3-, ion karbonat CO3 2-, ion Hidroksida OH-) (Ritonga, 2014). Senyawa-senyawa tersebut akan berikatan dengan ion H+ yang terlepas akibat larutnya CO2 dalam air sebagai hasil respirasi ikan. Senyawa inilah yang kita kenal dengan penyanggah atau buffer pH.

Apabila pH berubah signifikan karena alkalinitasnya di bawah standar, maka ikan sidat akan mengalami kegagalan adaptasi–yang diawali dengan tidak mau makan, imunitas turun, sakit, dan bobot susut.

Kesimpulan mekanisme di atas bisa diringkas menjadi diagram panah di bawah ini :
Alkanitas (tidak standar) -> CO2 naik -> pH turun -> kegagalan metabolisme (sulit bernafas, nafsu makan turun -> imunitas turun -> ikan sakit -> mati/susut

Dengan ilmu, maka budidaya akan menjadi sukses— sebagaimana jika kita mengetahui ilmu agama, maka jalan menuju Surga Firdaus menjadi mudah dan dekat, InsyaAllah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ومن سلك طريقا يلتمسفيه علما سهلالله له بهطريقا إلى الجنة

“Barangsiapa yang berjalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.”(HR.Muslim)

Jadi, tuntunan untuk mengejar ilmu sudah terekam jejaknya 1500 abad yang lalu. Maka bersemangatlah!

Ketahuilah penyebab kegagalan yang dialami. Semoga menjadi pelecut semangat untuk mengejar ilmu dan mengaplikasikannya.

Kebodohan + Kemiskinan = Kriminal

Kebodohan + Kekayaan = Kesombongan

Kebodohan + Kekuasaan = Kedzoliman

Kebodohan + Kepercayaan = Kesesatan

Sebaliknya

Ilmu + Kemiskinan = Qana’ah (rasa cukup)

Ilmu + Kekayaan = Kedermawanan

Ilmu + Kekuasaan = Keadilan

Ilmu + Kepercayaan = Kemenangan

Jaga alkalinitas air sehingga ikan akan memberikan feed back nafsu makan yang baik dan berdampak positif pada pertumbuhan. (/lp)

Sidat Labas | Better Eel for Better Life

Labas Academy The Series
FB Sidat Labas
Instagram @labassidat
Youtube LabasTV

Demonstration on Good Eel Culture Practices in Kaliwungu Village, Cilacap District

UN-FAO (United Nation-Food Agricultural Organization) atau Organisasi Pangan Dunia di bawah naungan PBB melakukan banyak kegiatan yang mendukung terwujudnya ketahanan dan kemandirian pangan. Fokus utama organisasi ini yaitu mengembangkan pertanian, peternakan, serta perikanan.

Indonesia dengan potensi sumberdaya air dan keanekaragaman hayati perikanan diharapkan menjadi salah satu sentra produksi pangan perikanan dunia yang menyediakan protein hewani untuk masyarakat.

Sidat merupakan komoditas perikanan Indonesia yang bernilai ekonomis dan nilai gizi yang sangat tinggi. Permintaan sidat di dalam dan luar negeri cukup besar tetapi belum didukung oleh produksi yang memadai. Selain jumlah petani lokal yang bergerak memproduksi sidat masih sedikit, sentuhan teknologi kepada para ahli perikanan juga masih minim.

Perairan di Cilacap adalah daerah dengan potensi sidat. Potensi ini perlu dieksplorasi agar memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat Cilacap. Hal inilah yang mendorong FAO bekerjasama dengan PT. Laju Banyu Semesta (Sidat Labas) untuk melakukan kegiatan “Demonstration on Good Eel Culture Practices in Kaliwungu Village, Cilacap District”, sebuah program pengembangan masyarakat berbasis perikanan budidaya, yang mengangkat potensi lokal agar bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat tersebut. Program ini memiliki beberapa kegiatan utama di antaranya:

  1. Pelatihan budidaya sidat bersama para ahli perikanan
  2. Aplikasi budidaya sidat hingga panen
  3. Monitoring dan pendampingan budidaya
  4. Pelatihan pembuatan pakan, proposal analisis usaha untuk permodalan
  5. Evaluasi akhir kegiatan

Kami berharap melalui program ini terlahir para ahli-ahli perikanan Indonesia. Masyarakat yang terlibat diharapkan bisa melakukan kegiatan produksi sidat secara mandiri, berkelanjutan, dan ramah lingkungan di masa mendatang.

Antusiasme kelompok pembudidaya cukup besar. Mereka sangat aktif berpartisipasi dalam kegiatan demosite. Kami bahagia sekali dapat memfasilitasi dan menjembatani keinginan mereka agar komoditas sidat bisa dikenal masyarakat, pemerintah dan dunia internasional sebagai pembelajaran. Kolaborasi menjadi kata kunci untuk mengembangkan dan meningkatkan skala usaha komoditas sidat agar manfaatnya terasa untuk berbagai pihak.

Tetap semangat, Sidaters!

Jika kondisi bisnis anda saat ini terdampak wabah, maka marilah kita memohon kepada Allah Rabbul ‘alamin untuk perlindungan dan keselamatan agama, keluarga, bangsa dan negeri tercinta ini. Ikuti saran pemerintah ahli kesehatan untuk tetap dirumah dan menjaga kesehatan karena badai insyaAllah berlalu…

10 April 2020
Sidat Labas