Agar Sidat Mengenal Makanannya

Ikan sidat mencapai ukuran konsumsi bila telah mencapai ukuran 120-500 gr. Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai ukuran 120 gr adalah 8-9 bulan masa pemeliharaan (Sasongko et al., 2007). Permasalahan yang paling dominan pada fase awal stadia glass eel dan elver, pada stadia tersebut sidat sulit beradaptasi dengan pakan buatan (Pelet) hal ini mengakibatkan sidat memiliki bobot tubuh rendah dan pertumbuhan yang lambat (Hirt Chabbert et al., 2012). Pertumbuhan yang lambat sangat berpengaruh terhadap masa budidaya yang berkorelasi terhadap biaya produksi yang tinggi bagi para petani sidat (Hirt Chabbert et al., 2012). Selain itu penggunaan pakan alami pada pendederan sidat cukup dominan, penerimaan terhadap pakan buatan yang masih kurang menjadikan ikan sidat lambat tumbuh. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mempercepat pertumbuhannya yaitu dengan pemberian pakan buatan yang ditambahkan atraktan sehingga ikan sidat menerima pakan dengan baik dan memenuhi kebutuhan nutrisi ikan sidat.

sidatMenurut Marui dan Caprio, 1992 ; Hara, 1994 menyatakan bahwa ikan sidat memiliki indera penciuman (olfactory) dan indera pengecap (gustatory) yang sensitif. Olfaktori merupakan indera jarak jauh bertugas memberikan isyarat untuk mendekati makanan sedangkan gustatori merupakan indera jarak dekat yang memegang peranan penting dalam keputusan menerima atau menolak makanan.

Ada tiga fase dalam mencari makan :
1. Pengenalan makanan
2. Mencari lokasi makanan
3. Pakan dikonsumsi (Hertramp, 2000).
Penggunaan atraktan dalam pakan diharapkan dapat berkorelasi positif terhadap pertumbuhan sidat.

Aroma pakan yang disebabkan atraktan dapat digunakan untuk menentukan kualitas pakan buatan karena erat kaitannya dengan penerimaan ikan terhadap pakan tersebut (Afrianto, 2005). Aroma pakan ditentukan oleh jenis dan jumlah atraktan yang ditambahkan selama proses pembuatan pakan, penambahan atraktan yang dimaksud untuk merangsang ikan guna mendekati dan mengkonsumsi pakan buatan yang diberikan. Penambahan atraktan akan meningkatkan konsumsi pakan sehingga pertumbuhan ikan juga akan meningkat (Afrianto, 2005). Atraktan mengandung sinyal yang memungkinkan hewan akuatik mengenali pelet lebih baik sebagai sumber makanan (Hertrampf, 2000).

sidatAtraktan umumnya dihasilkan dari asam amino bebas, asam amino bebas berperan sebagai komponen untuk memacu pertumbuhan, sumber energi dan bahan atraktan (Yufera et al., 2002). Pakan benih ikan trout yang ditambahkan campuran asam amino bebas (L alanin, glysin, L histidin dan proline) memberikan pengaruh yang baik bagi pertumbuhan sidat (Kamstra et al., 1991). Bahan lain yang dapat digunakan sebagai atraktan adalah tepung cumi dan tepung udang rebon karena mengandung glysin dan betain yang sangat penting untuk merangsang kebiasaan makan. cumi mengandung 619-928 mg glysin/betain/100 g daging cumi (Hertrampf, 2000). Gernat (2001) menyatakan kandungan asam amino bebas tepung udang yaitu Alanin 2,64 %, Glisin 2,58 %, Histidin 0,85 %, Prolin 1,81 %. Peran atraktan yang sangat penting dalam palatabilitas ikan terhadap pakan.

Nah para sidater dan labaser, itulah informasi bagaimana ikan sidat mengenal makanannya, semoga kita dapat memahami kehidupan sidat agar kita dapat memelihara makhluk Allah ini dengan baik dan memanfaatkannya untuk kemaslahatan umat.

Better Eel For Better Life

Daftar Pustaka :

Hirt Chabbert, J.A. Skalli, A. Young, O.A. Gisbert. E. 2012. Effect of Feeding Stimulants on The Feed Consumption, Growth and Survival at Glass Eel and Elver Stages in The European Eel (Anguilla anguilla). Aquaculture Nutrition 18: 152-166. Blackwell Publishing Ltd.

Marui, T. & Caprio, J. (1992) Teleost gustation. In: Fish Chemore-ception (Hara, T.J. ed.), pp. 171–198. Chapman & Hall, London.

Hertrampf, J.W. dan Pascual, F.P. 2000. Handbook on Ingredients for Aquaculture Feeds. Kluwer Academic Publisher. London. 573p.

Afrianto, E. dan Liviawaty, E. 2005. Pakan Ikan. Kanisius. Yogyakarta.

Yufera, M. Kolkovski, S. Fernandez Diaz and Pabrowski, K. 2002. Free Asam Amino Acid Leaching From Protein Walled Microencapsulated Diet For Fish Larvae. Aquaculture 214 : 273-287.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *