Indera Penciuman Sidat

KARENA IA (SIDAT) MENGGUNAKAN INDERA PENCIUMANNYA UNTUK MENCARI MAKAN

sidatPakan salah satu aspek yang sangat krusial pada fase pembesaran, para sidaters dan labasers yang sudah mulai melakukan kegiatan pemeliharaan hewan yang sama-sama kita banggakan bersama (karena asli Indonesia) dengan nilai gizi sidat dan harga sidat yang cukup ekonomis pastinya memerlukan apa yang disebut PAKAN sebagai asupan nutrisi yang menjadi sebab sidat ini tumbuh dan berkembang. Pagi hari yang cerah ini coba kita bahas aspek yang cukup krusial dalam pemeliharaan ikan sidat khususnya pada kegiatan pembesaran yaitu PAKAN dan ATRAKTAN.

Pada kegiatan budidaya (pemeliharaan hewan) dibutuhkan pakan sebagai sumber energy untuk metabolisme tubuh hingga pertumbuhan. Ada perbedaan tentunya dengan manusia, karena pada manusia istilah tersebut biasa kita kenal pangan bukan pakan. Jadi jangan sampai tertukar ya antara pangan dan pakan karena konotasinya menjadi kurang pas dan cenderung negatif bila salah penggunaannya. Istilah ini juga menjadi penting karena biasanya para formulator pakan akan mencari bahan baku pakan yang bukan bahan baku pangan atau sedikit sekali digunakan dan dikonsumsi oleh manusia, sehingga tidak terjadi kompetisi penggunaan bahan baku pakan. Ketika membuat pakan yang bahan bakunya juga digunakan dalam pangan (dengan kata lain ada kompetisi penggunaannya) maka harga bahan baku tersebut menjadi tinggi. Hal ini tentunya berdampak pada cost produksi pakan yang menjadi tinggi, alih-alih digunakan dalam pakan yang notabene untuk hewan lebih baik untuk manusia (biasanya kepentingan manusia lebih diutamakan) jadi lebih baik mengurangi penggunaannya atau bahkan mensubtitusikannya dengan bahan lain. Wah jadi cukup panjang tentang istilah pakan dan pangan, kami berharap sidaters dan labasers memiliki pemahaman yang benar terhadap hal tersebut. Di dalam pakan ada komponen yang cukup penting yaitu atraktan yang membantu merangsang ikan untuk mengirimkan impuls ke system saraf yang ada di otaknya “Ya itu pakan dan makanlah”. MasyaAllah sampai ikan mau makan saja prosesnya begitu kompleks dan luar biasa bagi orang yang memahaminya.

Sambil menikmati teh hangat mudah-mudahnya membuat anda rileks dan terus menikmati sajian kami selanjutnya……

Secara biologi ikan memiliki indera-indera yang membantunya untuk mendapatkan makanan. Indera penciuman (olfaktori) dan indera perasa (gustatori) berpengaruh terhadap kebiasaan makan ikan. Olfaktori merupakan indera jarak jauh bertugas memberikan isyarat untuk mendekati makanan sedangkan Gustatori merupakan indera jarak dekat yang memegang peranan penting dalam keputusan menerima atau menolak makanan.

Ada Tiga fase dalam mencari makan :

  1. Pengenalan makanan
  2. Mencari lokasi makanan
  3. Pakan dikonsumsi (Hertramp, 2000).

Pada ikan sidat indera olfaktori (penciuman) lebih dominan digunakan dalam mencari makan (Tesch, 1977), sehingga ini menjadi salah satu pengetahuan yang membantu dalam rekayasa teknologi pakan sidat.

sidat

Gambar Indera Penciuman Sidat (Olfactory) (Tesch, 1977)

Aroma pakan ditentukan oleh jenis dan jumlah atraktan yang ditambahkan selama proses pembuatan pakan. Penambahan atraktan dimaksudkan untuk merangsang ikan guna mendekati dan mengkonsumsi pakan yang diberikan. Penambahan atraktan dengan jenis dan jumlah yang tepat akan meningkatkan konsumsi pakan sehingga meningkatkan pula pertumbuhan ikan.

sidatInilah yang menjadi alasan dalam proses penangkapan sidat (eel catching) diberikan umpan yang berbau amis (sebagai atraktan) sehingga menggiring ikan dengan mudah bisa ditangkap. Dalam pakan juga sebaiknya mengaplikasikan pengetahuan biologi yang sudah Allah ungkap (maksudnya atraktan) sehingga proses adaptasi pakan terhadap ikan yang baru saja ditangkap menjadi lebih mudah.

Pakan yang memiliki atraktan yang baik akan lebih mudah dikenal oleh sidat sebagai pakan sehingga penerimaan sidat terhadap pakan atau bahasa kerennya palatabilitas pakan menjadi meningkat yang selanjutnya dapat mendukung pertumbuhan sidat yang anda pelihara.

Demikian sajian kami kali ini semoga bisa menambah wawasan dan ilmu anda tentang persidatan dan lebih bisa mendalami sense of eel culture sehingga proses budidaya yang anda lakukan bisa berhasil insyaAllah. Terus ikuti informasi dan ilmu perkembangan Sidat di web kesayangan anda minggu depan InsyaAllah.

Bogor, 26 November 2015 dihari yang cerah diiringi gemercik air yang mengalir

Farm SIDAT LABAS

Better Eel for Better Life

Pustaka

Hertrampf, J.W. dan Pascual, F.P. 2000. Handbook on Ingredients for Aquaculture Feeds. Kluwer Academic Publisher. London. 573p.

Tesch. S.W. 1977. The Eel Biology and Management of Anguillid Eels. Ed. Chapman and Hall. 435 p.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *