Pelatihan Budidaya Sidat dan Kemitraan Januari 2016

Labasers dan Sidaters dimanapun anda berada

Pada hari yang cerah ini, tepatnya di kota cirebon. Kami akan sajian ulasan lanjutan seminar yang kami lakukan bekerjasama dengan LIPI beberapa waktu yang lalu. Harapannya agar rekan-rekan Labas bisa mengikuti hingga tuntas informasinya dan mengaplikasikannya di farmnya masing-masing.

12552606_1551578251820471_7600383554754180699_nOke,kita langsung pada pembahasan kita. Kami akan coba paparkan presentasi kedua pada acara tersebut yang bertajuk “Mikrobiologi Sidat & Fermentasi Pakan”

Silahkan seduh teh hangat anda sebagai teman menikmati sajian kami hari ini.

Presentasi ini disampaikan oleh kepala bagian mikrobiologi LIPI Achmad Dinoto Ph.D, cukup menarik kerena rekayasa mikrobiologi pada pengembangan akuakultur khususnya sidat masih belum banyak diketahui dan diaplikasikan. Achmad Dinoto Ph.D menjelaskan bahwa bakteri punya peran dalam membantu metabolisme tubuh makhluk hidup secara umum,begitu pula sidat yang tentunya banyak dibantu oleh mikroorganisme yang tidak kasat mata bisa kita lihat.

Pada kulit dan lendir sidat misalnya beliau menjelaskan bahwa banyak sekali bakteri atau mikroorganisme yang ditemukan ketika di isolasi pada media tumbuh bakteri skala laboratorium. Bakteri tersebut ada yang merupakan agen penyebat penyakit ada pula yang bukan agen penyakit, pada kondisi normal dimana ketahanan tubuh ikan sedang baik maka mereka tidak membuat ikan sakit.

12552647_1551578275153802_5085586767294405068_nSelain di bagian kulit atau lendir, pada pencernaan sidat juga ditemukan bakteri yang diduga dapat membantu proses pencernaan dan penyerapannya. Layaknya Lactobacillus casei strain shirota yang sudah banyak dikonsumsi manusia untuk membantu proses pencernaan. Bakteri yang memiliki sifat positif atau memberikan manfaat bagi tubuh makhluk hidup maka kita sebut mereka(bakteri) “Probiotik”. Nah, bakteri tersebut coba diisolasi dan ditumbuhkan dilaboratorium. Kemudian diuji untuk mengetahui apakah punya potensi negatif atau tidak melalui serangkaian uji laboratorium.

Setelah diyakini lulus uji laboratorium, calon probiotik ditumbuhkan massal di lab untuk memperbanyak populasinya. Kemudian kita harus melakukan ujibiologis terhadap sidat yang kita pelihara.

Itu gambaran tahapan bagaimana probiotik dapat diaplikasikan secara masal pada tataran praktisi. LIPI bekerjasama dengan Sidat Labas melakukan riset pakan fungsional dengan teknologi fermentasi dan mikrobiologi pakan.

Alhamdulillah saat ini kami coba aplikasikan dilapangan untuk menguji secara biologis efek dari pakan fungsional yang dibuat dengan penerapan dua rekayasa di atas. Kita semua berharap pakan yang sudah difermentasikan akan lebih sederhana sehingga mempermudah proses pencernaan ditambah lagi dengan penerapan probiotik yang mendukung pencernaan sidat. Sehingga output yang diharapkan adalah pertumbuhan yang tinggi dengan parameter Daily Growth Rate (DGR) dan Feed Conversion Ratio (FCR) yang rendah. Dua parameter tersebut sebagai awal evaluasi untuk melihat performa dua teknologi rekayasa pakan yang diterapkan pada riset tersebut.

Kami mohon doa dan dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia agar diberikan yang terbaik, sebagai usaha untuk meningkatkan produksi sidat nasional…. Allahumma aamiin

Demikian sajian kami kali ini, semoga semakin memberikan inspirasi dan menambah khazanah ilmu Budidaya Sidat khususnya Feed Technology.

Salam hangat kami untuk Sidaters & Labasera seantero dunia….

Cirebon, 14 Januari 2016

Better Eel for Better Life

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *