Menanggulangi Sidat Kurang Gizi (Malnutrisi)

Kebutuhan Nutrisi Ikan Sidat

Assalamualaikum warahmatullah wabaraakatuh

Salam sejahtera untuk kita semua, Alhamdulillah setelah minggu lalu kita kupas tentang wadah pemeliharaan sidat. Pada sajian kami hari ini kita coba ulik dan bahas kebutuhan nutrisi ikan yang sama-sama kita banggakan dan kita pelihara, apalagi kalau bukan  eel sidat. Sebagian labaser dan sidaters yang semoga dimuliakan Allah mudah-mudahan bisa memahami ini. Tujuan nya agar sidat yang anda pelihara tidak mengalami mal nutrisi (kekurangan nutrisi) karena tidak memiliki ilmu kebutuhan nutrisi sidat yang di pelihara.

Oke kami langsung saja suguhkan sajian kami kali ini untuk labaser dan sidaters di seluruh penjuru dunia…..

Sambil seduh teh anda dan berikan gula secukupnya agar anda bisa rileks menikmati sajian kami pagi ini…..

Ikan membutuhkan pakan dengan kandungan nutrisi yang seimbang untuk tumbuh secara optimal. NRC (1993) mengatakan bahwa pakan yang terbuat dari bahan baku yang mengandung nutrien dan energi akan berguna dalam pertumbuhan, reproduksi, dan kesehatan ikan. Ketika terjadi kekurangan nutrien dan energi maka pertumbuhan ikan akan menurun dan mudah terserang penyakit.

Nutrien yang terkandung dalam pakan ikan adalah protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral (Lovell, 1989). Nutrien utama yang dibutuhkan ikan untuk dapat tumbuh secara optimal adalah  protein. Halver (2000) menyebutkan bahwa protein sangat penting bagi tubuh ikan karena hampir 65-75% berat kering tubuh ikan merupakan protein. Protein sendiri merupakan kumpulan dari asam amino essensial dan non essensial yang berantai dan membentuk ikatan peptida (NRC 1993). Jika kebutuhan ikan akan protein tidak mencukupi maka pertumbuhan akan berhenti dan terjadi penurunan bobot tubuh karena protein pada jaringan tubuh akan dipecah kembali untuk mempertahan fungsi jaringan tubuh yang lebih penting (NRC, 1993).

sidat
Sidat dengan kondisi sehat

Kebutuhan ikan akan protein pun dipengaruhi oleh beberapa faktor. Watanabe (1988) lebih lanjut menyatakan bahwa kebutuhan ikan akan protein ditentukan oleh faktor ukuran ikan, suhu air, frekuensi pemberian pakan, energi dalam pakan, dan kualitas protein yang ada. Halver (2000) menambahkan pula bahwa kandungan protein yang optimal untuk ikan dipengaruhi oleh keseimbangan protein dan energi, komposisi asam amino, kecernaan protein, dan sumber energi dalam pakan. Ketika energi berkurang maka protein akan dirombak oleh tubuh untuk dijadikan sebagai sumber energi sehingga pertumbuhan ikan akan terhambat mengingat fungsi utama protein untuk ikan yakni pembentukan sel baru.

Ikan sidat bersifat karnivora dan membutuhkan protein yang tinggi dibandingkan herbivora dan omnivora (Webster dan Lim, 2002).  Nose dan Arai (1972) dalam Webster (2002) melaporkan bahwa Anguilla japonica yang muda atau masih kecil membutuhkan lebih dari 45 % protein murni berbasis kasein. Tibbets et al (2000) dalam Webster (2002) memperkirakan bahwa level optimum protein untuk juvenil sidat amerika yaitu 47 % dengan pakan berbasis tepung ikan hearing. Dapat disimpulkan kebutuhan protein ikan sidat berkisar antara 45-47 % relatif lebih tinggi dibandingkan dengan spesies ikan lain.

Keberadaan nutrien lemak sangat penting dalam pakan ikan. NRC (1993) mengatakan bahwa lemak berfungsi sebagai sumber energi yang dibutuhkan ikan dan merupakan sumber asam lemak esensial yang tidak dapat disintesis oleh tubuh. Khususnya untuk karnivora seperti sidat (Webster, 2002), Penambahan lemak dalam pakan  berfungsi sebagai protein sparing effect. Burgos et al (1989) meneliti tentang penggantian protein dengan lemak, mereka melaporkan bahwa menurunnya level protein pakan dan meningkatnya level lemak pakan tidak menurunkan bobot sidat. Hal ini mengindikasikan bahwa ada kemungkinan pada batas tertentu protein dapat digantikan oleh lemak (protein sparing effect). Tsuda (1997) menyatakan lemak untuk elver-juvenil berkisar antara 5-6 %.

Nutrien non protein lain yang berfungsi sebagai sumber energi adalah karbohidrat. Millamena (2002) menyebutkan bahwa karbohidrat merupakan sumber energi termurah dan dapat menggantikan protein yang mahal untuk suplai energi dalam pakan ikan sehingga dapat mereduksi harga pakan. Sidat adalah ikan yang termasuk golongan ikan karnivora dan memiliki kemampuan yang terbatas dalam memanfaatkan karbohidrat (Webster, 2002). Garcia et al (1991) menyatakan disarankan level karbohidrat sampai level 40 %.

Demikian sajian singkat kami perihal kebutuhan nutrisi ikan sidat secara umum, semoga sajian kami kali ini bisa menambah khazanah keilmuan sidater dan labaser di seantero dunia.

Salam sidat, tumbuh terus hingga panen tiba….

Better Eel for Better Life

Temaram Mendung Di langit Kota Hujan

17 Desember 2015

Pustaka

Burgos, C., Castillo, M., Zafra, M.F. and Garcia-Peregrin, E. (1989) Influence of Protein Replacement by Fat in Eel Diets on Growth and Body Composition. Special PublicationNo.10, European Aquaculture Society, Bredene, Belgium, 281 pp.

Halver, J.E. 1989. Fish Nutrition. Second Edition. Academy Press Inc. New York. Poultry Science 80:633-636.

Lovell, T. 1989. Nutrition and Feeding of Fish. Van Nostrand Reinhold. New York.

Millamena, Oseni. M, Relicado M. Coloso, and Felicitas P. Pascual. 2002. Nutririon In Tropical Aquaculture. In: Essential of Fish Nutrition, Feeds, and Feeding of Tropical Aquatic Spesies. Aquaculture Departement. Southeast Asian Fisheries Development Center. Tighauan, Iloilo: Philippines.

National Research Council. 1993. Nutrien Requirement of Fish. National Academy Press. Washington D.C. 102 pp.

Watanabe, T. 1988. fish Nutrition and Mariculture. Department of Aquatic Biosience. Tokyo University of Fisheries. JICA

Webster, Carl. D and Chhorn Lim. 2002. Nutrien Requirement and Feeding of Finfish for Aquaculture. Aquaculture Research Center. Kentucky State University.